Detektif Anna Pearce pagi itu melajukan sedannya dengan kecepatan yang agak berbeda dari biasanya. Bagaimana tidak, pagi ini dia terbangun dari tidur lelapnya karena mendengar sebuah berita yang sangat mengejutkan. Pembunuhan besar-besaran baru saja terjadi semalam. Dan korbannya, bukan orang-orang biasa. Pembunuhan tersebut menimpa salah satu keluarga terkaya di Amerika-keluarga Collins.
Tanpa sempat menyeruput espresso seperti biasanya, dia langsung bergegas menuju tempat kejadian perkara.
Rumah keluarga Collins telah tampak begitu ramai dipadati oleh mobil-mobil polisi dan juga ambulans. Beberapa pria dengan setelan lengkap nampak berbicara di telepon dengan nada panic. Namun detektif Anna tidak punya waktu untuk mengurusi semua hiruk-pikuk itu. Dia harus menemui rekannya yang telah menunggunya di dalam. Benar saja, begitu sampai di dalam dia langsung di sambut rekannya, Detektif Jones. Pakaian dan tatanan rambutnya yang berantakan serta kantung mata yang melingkari bawah matanya seakan menyiratkan betapa ia sangat berkonsentrasi dalam beberapa jam terakhir ini.
“Hei Pearce! Kemana saja kau?!”
“Maaf partner, tak ada waktu untuk menjelaskan sekarang. Jadi, apa saja yang sudah kau dapat?”
“Hah, dasar kau! Sepertinya telah terjadi pembunuhan masal di sini. Korbannya… hmm.. bisa dikatakan semua yang pernah bernyawa di rumah ini sekarang telah mati.”
“Apa maksudmu?”
“Suami-Istri John dan Mary Collins, tujuh orang pelayan, dua orang koki, dua orang supir, dua ekor anjing, seekor kucing, semuanya mati dengan gejala yang sama, serangan jantung.”
Anna membuka kantung mayat yang telah membungkus satu mayat. Didapatinya mayat wanita paruh baya yang –dulunya-cantik dalam balutan gaun tidur kini telah berubah menjadi kaku sedingin es seolah-olah separuh cairan tubuhnya telah tersedot keluar.
“Mary Collins” benaknya..
“Aneh”
“Aneh? Hah? Aneh? Hanya itu yang bisa keluar dari mulutmu? Berapa kali memangnya kau pernah melihat kejadian macam ini? Kalau aku sih.. hmm.. biar kuingat dulu.. BELUM PERNAH!!”
“Baiklah, aku mencoba serius disini. Aku akan ke kantor melihat berkas-berkas keluarga Collins”
“Tidak perlu, aku sudah mendapatkannya. Ada satu orang yang sekarang ditetapkan menghilang”
“Menghilang?”
“Putri Samantha” Detective Jones melebih-lebihkan
“Apa maksudmu ‘putri’?”
“Well, keluarga Collins sangat kaya. Putri tunggal mereka yang masih berumur 6 tahun, Samantha Collins sekarang adalah pewaris tunggal seluruh harta keluarganya. Jika dia masih hidup tentunya.”
Anna Nampak merenung
“Apa yang yang kau pikirkan?” kata detektif Jones
“Keluarga kaya yang dibantai lalu putri mereka menghilang”
“Ku pikir tidak seperti itu, keluarga Collins sangat ramah dan dermawan. Tidak akan ada yang mau membantai mereka”
“Ya sudah kita pikirkan itu nanti. Sebaiknya kita pusatkan pada pencarian Samantha sekarang”
“Kau benar, aku akan ke kantor untuk melapor pada letnan”
“Baiklah, hati-hati partner”
“selalu”
Detektif Jones hendak akan meninggalkan ruang tamu itu ketika Anna tiba-tiba merasakan ada yang aneh pada lemari besar yang agak terbuka pada bagian pintunya. Naluri penyelidiknya menyuruhnya untuk melihat isi lemari itu.
Dia berjalan perlahan mendekati lemari yang nampaknya sudah bisa disebut antik itu. Begitu dia membukanya, dia Nampak terkejut lalu segera memanggil Detektif Jones kembali.
“Roger!”
Agak berteriak sebenarnya sampai-sampai mengagetkan Detektif Jones yang beru saja akan memutar gagang pintu. Segera dia berbalik dan berlari menuju Anna diikuti beberapa polisi yang berada di sekitar mereka.
“Ada Apa? “
Alangkah terkejutnya ia mendapati seorang gadis kecil meringkuk dalam lemari dalam keadaan tertidur dengan dengan piyama yang bersimbah darah dan sebuah kalung berliontinkan kunci nampak menggantung di lehernya.
“Sepertinya kita telah menemukan sang putri!”
0 comments:
Post a Comment