Matahari sebentar lagi terbenam.
Aku harus segera pergi.
Emily pasti akan mencariku jika aku tidak segera kembali.
Tanpa sadar lama sekali aku menghabiskan waktu disini. Di
depan rumah Jill.
Sudah beberapa hari terakhir ini aku senang sekali
mengunjunginya. Yah, bukan mengunjungi sih tepatnya. Aku hanya memandanginya
dari jauh.
Dia tahu, dia melihatku juga selama ini.
Hanya saja, aku tidak bisa
mendekatinya. Sebagian waktunya dia habisakan dari balik pagar-pagar perak itu.
Sementara aku selalu saja duduk disini, di tempat terbaik untuk memandangnya.
Tak apalah walau harus berpayah-payah memanjat pohon dan dinding ini. Lagi pula aku mahir melakukannya.
Tak apalah walau harus berpayah-payah memanjat pohon dan dinding ini. Lagi pula aku mahir melakukannya.
***
Sudah beberapa blok aku meninggalkan rumah Jill, tapi aku
masih saja memikirkannya. Kucing persia itu cantik sekali. Sayangnya, seperti
halnya kucing-kucing mahal yang lain dia begitu ‘tak tersentuh’. Aku tidak
pernah, dan sepertinya tidak akan pernah bisa mendekatinya. Sepanjang siang dia
terkurung dalam kandang perak yang indah. Baru sore hari majikannya bisa menghabisakan
waktu dengannya. Seperti tadi sore, dengan hati-hati manusia itu memotong kuku
dan menyisir bulunya yang indah. Itulah mengapa Jill begitu terawat. Sedangkan aku? Aku
hanya seekor kucing hitam jalanan yang ditakuti orang-orang. Jangankan mendekat
ataupun mengelus lembut kepalaku. Jika
melihatku mereka akan segera menghindar. Mereka bilang aku pembawa sial. Ketika berdekatan denganku, beberapa diantara mereka bahkan memukulku dengan kayu karena mereka
pikir aku membawa pesan kematian. Aku memang kucing hitam, tapi itu tidak lantas
membuatku menjadi ‘bukan-mahluk-hidup’ kan?
Untung saja masih ada Emily yang mau bermain
dan merawatku setiap hari. Dia bukan tuanku tapi setiap hari aku menemuinya. Kadang aku berharap bisa bercerita padanya tentang Jill. Andai saja dia mengerti bahasaku. Dia gadis penyendiri yang kesepian. Kurasa aku
dan dia sama-sama hanya saling memiliki satu sama lain. Disaat semua orang
memandangku dengan sebelah mata, dia-lah yang selalu tersenyum lembut
seolah-olah mendengarkan eongan-ku dapat membuat harinya jadi lebih baik. Meskipun
aku tahu tidak begitu.
***
Hari sudah semakin gelap.
Langkahku agak menyakitkan karena luka bekas pertarungan beberapa hari yang lalu, tapi syukurlah aku sampai tepat waktu .
Sekarang, seperti biasa aku akan duduk disini.
Menunggu kedatangan Emily di depan batu nisan-nya.
-end-
340 kata



4 comments:
Tiba-tiba ada nama emily di akhir cerita! Siapa dia? Hehehe, gue rasa ini twist! Karna gue baru tahu ada kucing berbatu nisan... #moga2gakOOT
Di awal udah ada nama emily kok.. dia bukan kucing ._.
wahhh...ide ceritanya tidak biasa. bagus ;)
waah makasih banyak ;)
Post a Comment