Barely Alive

The untold story of me. .

My Way Home




January 16th 2013
05.00 pm

Sudah setengah tahun.
Sejak malam dimana bapak, ibu dan adik-adik meninggalkan aku sendirian di tanah asing.
Aku masih ingat jelas bagaimana aku menahan tangis agar ibuku tidak melihat kerapuhanku.
Agar beliau tidak khawatir meniggalkan putri pertamanya yang masih payah ini sendirian
Agar hatinya tidak semakin sedih harus berpisah jarak yang jauh denganku. 
Aku masih ingat bagaimana butir-butir air mata mengalir deras dari kedua matanya seiring dengan jutaan pelukan yang dia berikan malam itu.
Aku ingin menangis juga. Sangat.
Tapi saat itu yang aku pikirkan adalah air mataku hanya akan lebih menyakitinya.
Biarkan.. biar aku pakai tenagaku yang tak seberapa habis untuk berpura-pura tegar di depannya.

Sudah setengah tahun  sejak malam itu.
Malam dimana keningku dicium dan ragaku yang lelah dipeluk erat oleh bapak.
Aku tidak ingat kapan bapak pernah memelukku seerat itu.
Bapak mungkin tidak menangis seperti ibu, tapi pelukan itu menyadarkanku bahwa bapak juga sedih. Bahwa bersama pelukan itu bapak sematkan kepercayaan padaku untuk hidup mandiri, jauh dari perlindungannya.
Dan bahwa bersama pelukan itu dengan berat hati dia melepaskan putrinya yang rapuh dan payah ke pelukan dunia yang entah akan memperlakukannya seperti apa.

Sudah setengah tahun sejak aku merasakan ada lubang besar di paru-paruku.
Malam itu sejujurnya nafasku tidak karuan. Seperti ada organ penting yang hilang dalam tubuhku. Semua terasa begitu menakutkan, terasa salah.
Aku harus jauh dari adik-adik nakal dan menyebalkan yang biasanya mengisi hari-hariku.
Aku terlalu gengsi untuk mengatakan bahwa sebagai kakak aku menyayangi mereka. Sangat.
Aku ingin menjadi panutan untuk mereka. Aku ingin menjadi orang yang bisa mereka andalkan.
Kami bertiga seperti sebuah panah, dan aku adalah ujungnya. Untuk dapat membuka jalan bagi mereka, aku harus jadi yang paling runcing.
Semoga Allah senantiasa membukakan jalan bagi kami. Amiin.

Sudah setengah tahun sejak malam paling haru dalam hidupku. Dan sekarang disinilah aku. Di dalam sebuah gerbong kereta dalam perjalanan pulang.
Aku sendirian. Sejauh yang aku ingat inilah pertama kalinya dalam hidupku aku berpergian sendirian. Biasanya selalu ada teman tapi kali ini aku sendirian. Normalnya aku takut, aku selalu takut di tempat ramai seorang diri. Tapi pikiran akan rumah mengalahkan segala bentuk rasa takut.
Aku dikelilingi orang-orang asing.
Mereka saling berbincang-bincang tentang.. apapun, tapi sepertinya aku sangat mahir mengabaikan mereka. Aku menghabiskan sebagian besar waktu memandang keluar jendela. Dunia terlihat bergerak begitu cepat di saat aku tidak bergerak sama sekali. Itu menarik. Aku tidak sedikitpun bosan karenanya. Terutama karena senja menjelang.
Dari balik kaca jendela aku bisa melihat warna jingga matahari sore mewarnai sawah sementara angin menari bersama tanaman padi. Aku ingin tersenyum melihat mereka. Kalau saja tidak ada pasang-pasang mata di sekitarku.

Pemandangan ini semacam mengingatkanku pada suatu sore saat aku masih SD.
Waktu itu aku sedang berada di tengah kegiatan kemah di sekolah.
sama seperti sekarang, sore.
Sinar jingga matahari sore menerpa wajah-wajah kami yang berlarian di lapangan sekolah degan riangnya. Hari itu sudah hari kedua aku berkemah.
Saat aku masihkecil bapak dan ibu selalu mengijinkanku mengikuti kegiatan semacam itu. Mungkin bagi mereka itu semacam melatih kemandirianku, tapi bagaimanapun, alasanku mengikuti kegiatan-kegiatan itu adalah semata-mata untuk bersenang-sanang. Dan ya, aku bersenang-senang tiap kali aku berkemah di sekolah.
Tapi tahukah apa yang paling aku nantikan dalam setiap kegiatan yang aku lakukan selama perkemahan?
Aku menunggu saat-saat seperti itu. Sore dimana kami berlarian di lapangan sekolah dengan bebasnya, terhanyut dalam permainan yang kami buat sendiri. Kemudian, mendapati wajah yang kami kenal di balik gerbang sekolah diantara wajah-wajah asing yang berkerumun. Itulah saat dimana keluarga biasanya datang berkunjung.
Oh, seandainya aku dapat menceritakannya dengan lebih baik.
Seandainya kalian tahu bagaimana rasanya mendapat kunjungan seperti itu bisa sangat berarti bagi anak seumurku. Walaupun hanya setelah dua hari tapi rasanya seperti, seperti menang. Ya, sebuah kemenangan besar.
Senang sekali rasanya melihat bapak, ibu dan adik-adikku berkunjung ke sekolah .
Aku yang berada jauh dari gerbang berlari seakan-akan aku adalah pelari tercepat di dunia.
Aku tidak peduli dengan beberapa anak yang mungkin aku tabrak sepanjang jalan. Yang ku pikirkan adalah bagaiman aku bisa segera sampai. Dan ketika aku ahirnya sampai, kemenangan itu terasa begitu nyata. Seperti aku telah berada di tempat aku seharusnya berada. Diantara mereka.
Ibu memelukku dan bapak mengusap lembut kepalaku. Aku telah menang. Miris rasanya mengingat arti kata ‘menang’ bisa begitu sederhana saat kita masih kanak-kanak.

 Lengkungan senyumku tidak terbendung saat aku mengingat momen kemenangan itu.
Hah.. tapi semuanya sudah berbeda sekarang. Tidak ada lagi berkemah di sekolah. Tidak ada lagi matahari sore di lapangan sekolah. Tidak ada lagi kunjungan yang aku nantikan.
Aku mestinya sudah dewasa sekarang. Lengkugan senyumanku memudar saat kuingat kata itu. Dewasa.

  
6.30 pm
Keretanya berhenti.
Entah sudah sampai dimana ini.
Pemandangan di luar jendela kereta saat sedang melaju dan berhenti benar-benar berbeda.
Aku bosan seketika.
Perhentian ini membuatku sadar akan hiruk-pikuk yan terjadi di sekitarku. Aku masih mengabaikan mereka. Aku memejamkan mata dan, tertidur.

January 17th 2013
06.00 am
Sekarang sudah pagi. Tidak ada yang nyaman dari tidurku semalam. Aku terjaga berulang kali. Sekitar jam 3 pagi tadi aku berbincang sebentar dengan paman di sebelahku tentang dari mana dan mau kemana aku. Dia bercerita bagaimana dia pernah selamat dari maut beberapa tahun yang lalu. Selebihnya, aku memandang keluar jendela dan tertidur lagi. Punggungku sudah mulai sakit karena terlalu lama duduk, tapi aku tidak memiliki niatan sedikitpun untuk meregangkannya.
Aku tidak bisa lagi melihat ke luar jendela. Uap air menutupinya hingga tidak terlihat apapun. Diluar sana sedang hujan. Cukup deras. Aku semakin tidak sabar. Aku tahu aku sudah dekat. Semakin dekat.


01.00 pm
Lalu keretanya berhenti lagi. Urrgh! Ingin rasanya aku memaki. Apapun. Seakan alam semesta senang sekali melihatku kacau begini. Entah sudah berapa kali keretanya berhenti sejak siang tadi. Dan tiap kali berhenti paling tidak setengah jam baru ia begerak lagi. Situasi ini menyiksaku sekali. Aku lelah! Ingin cepat turun! Ingin cepat sampai! Tapi.. aku bisa apa. Mereka bilang ada banjir besar di kota asalku. Memang harus begini agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Tapi.. ah sudahlah. Aku hanya bisa menggerutu dalam hati. Paman di sebelahku sepertinya dapat melihat jelas kegundahanku. Dia mengatakanhal-hal baik seperti bapak dan ibu sudah menunggu di stasiun tujuan dan sebentar lagi sampai. Aku mencoba mendengarkan kata-katanya dan bersabar sedikit lebih lagi.


02.00 pm
Sudah satu jam keretanya berhenti. Aku sudah terlalu lelah untuk marah. Aku berdoa agar ini cepat berakhir.  Seharusnya jam 8 pagi tadi aku sampai. Bagian terlemah dari diriku sudah hampir menangis. Tapi tidak akan kubiarkan. Hampir sampai, tinggal dua stasiun lagi. Sedikit lagi. Aku putuskan untuk bangkit dari tempat duduk dan menunggu di pintu gerbang saja. Aku sampai lupa betapa beratnya tas yang ku bawa. Aku sempat malu karena langkahku yang gontai saat menuju ke pintu gerbong. Sial, ternyata keretanya berhenti lagi. Aku malu kembali ke tempat duduk. Jadi aku berdiri saja dekat pintu gerbong dengan tas yang beratnya meyakiti punggung lelahku. Aku bertahan. Ini tidak akan lama.

Aku tidah tahan. Kakiku terasa terlalu lemah untuk menopang beratku, terutama dengan tas ini. Aku mengabaikan gengsi dan kembali lagi ke tempat duduk. Dalam penglihatanku semua orang seakan melemparkan tatapan “kok balik lagi?” dengan senyum mengejek. Mungkin aku terlalu lelah sampai berpikir begitu. Lagi, aku abaikan mereka.


02.30 pm
Sampai. Sampai. Ini dia. Keretanya melambat. Aku bertanya dua kali ke orang yang sama untuk meyakinkan apa benar ini stasiun tujuanku. Aku merasa bodoh. Tapi biarlah. Aku ingin yakin bahwa aku tidak turun di tempat yang salah. Saat aku berdiri aku bisa melihat sebagain besar orang di gerbongku berdiri juga. Ya Allah.. Semoga sisa tenagaku cukup untuk berdesakkan dengan mereka di pintu keluar.

Aku menarik nafas panjang sebelum masuk ke dalam kerumunan orang yang menuju pintu gerbong. Sambil terus berusaha bergerak maju, aku memandang keluar jedela. Berusaha mencari wajah yang ku kenal. Disana! Itu ibu! Ya Allah, sudah setengah tahun aku tidak melihat wajah ibu. Ibu tidak melihatku. Aku melihat kecemasan di wajah ibu. Beliau sedang mencari aku di kerumunan yang baru keluar dari kereta. Aku ingin teriak agar dia melihatku dari balik jendela. Tapi, suaraku tak bisa keluar sekeras yang aku ingin. Aku terengah. Tak menemunkanku di pintu gerbong, aku bisa melihat ibu menuju ke pintu ke gerbong di depanku. Aku semakin tak sabar keluar dari tempat sesak ini. Aku mencari sosok bapak. Dan disana! Hahaha berbeda dengan ibu, bapak duduk tenang memandangi ibu yang kewalahan mencariku. Aku tersenyum melihat pemandangan ini.

Akhirnya aku berhasil keluar dari kereta. Ibu ditelan keramaian. Aku tak bisa melihatnya dimanapun. Yang aku tahu aku lebih dekat dengan tempat bapak berada. Tapi tetap saja, kompas alami tubuhku bergerak mencari ibu di antara keramaian. Sejenak, aku lupa akan lelahku. Aku menyikut sana-sini agar bisa melihat ibu. Lalu akhirnya disana, ibu berbalik. Ia melihatku. Aku bisa melihat dengan jelas terkejut dan bahagia bertumpah di wajahnya. Aku lupa aku bukan lagi anak kecil. Aku berlari ke arahnya dan menghambur ke dalam pelukannya.  Di detik ibu memelukku aku tahu bahwa sekarang, semuanya akan baik-baik saja.

Sekali lagi dalam hidupku, aku menang. 

0 comments:

Post a Comment