![]() |
| Sam-Dean-Castiel |
Title : Day Off
Cast : Dean Winchester, Sam Winchester, Castiel
Rate : All ages
Theme : Brotherhood, Friendship
Dean
berlari. Sekencang yang ia bisa. Dia harus menyelamatkan diri. Peluh sudah
bercucuran dari keningnya. Malam sudah semakin larut. Ia harus terus berlari.
Suara gonggongan itu terdengar semakin kencang dari belakangnya. Suara
gonggongan yang tidak asing lagi, dia pernah mendengarnya. Itu adalah
gonggongan yang tidak mau lagi ia dengar untuk selamanya. Hellhounds. Suara
anjing neraka tak kasat mata itu terdengar begitu dekat. Mungkin hanya 3-4
meter darinya. Tapi menyadari anjing-anjing itu bisa berada dimana saja membuat
Dean semakin ketakutan.
“Tuhan, sekali saja dalam hidupku. Tolong
aku!”pikirnya sambil terus berlari
Dari suara yang
ia dengar sepertinya Hellhound yang mengerjarnya semakin banyak. Sesekali ia
menengok ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Dia berlari di jalan utama dari
sebuah perumahan. Rumah-rumah besar, sama dan kosong yang berada di sekitarnya menandakan kalau sepertinya
itu perumahan baru. Dengan hanya diterangi lampu jalan di setiap beberapa
meter, jalan yang cukup lebar itu menjadi gelap. Terlalu Gelap. Dean tidak ingat dimana ia
berada sebenarnya, dimana ia memarkirkan impalanya, atau bahkan dimana adiknya,
Sam. Untuk bisa mencari dua hal paling berharga dalam hidupnya itu pertama-tama
ia harus menyelamatkan dirinya sendiri terlebih dahulu.
Dengan
tenaga yang semakin sedikit, ia berlari semakin cepat. Tapi Hellhounds
dibelakangnya berlari dengan lebih cepat lagi. Mereka semakin dekat dan semakin
dekat. Dean tidak tahu lagi harus berlari kemana. Kepanikan dalam otaknya
membuat kompas alami tubuhnya terganggu. Napasnya hampir habis dalam pelarian
itu ketika ia merasakan ada tangan yang meraih pundak kanannya.
Hal
berikutnya yang ia ketahui adalah ia telah berpindah. Dari jalan besar dan
gelap, ke sebuah gang sempit antara dua gedung besar dengan dinding penuh
coretan, lembab dan masih tetap gelap. Tidak ada lagi suara gonggongan
Hellhounds. Begitu logikanya kembali ketempat semula Dean melihat sepasang mata
biru menatapnya dalam-dalam dengan ekspresi bingung.
“Cass?” kata
Dean
Tanpa
menjawab, Castiel menyentuh kening Dean dengan dua jari tangan kananya. Lalu
seketika itu juga Dean terjaga dari tidurnya.
~!~
Dean terkejut.
Napasnya terasa berat. Ia terengah-engah seperti baru saja menyalesaikan lomba
marathon. Dia bangkit dan duduk di atas ranjang sambil memegangi kepalanya yang
terasa berat. Tak lama kemudian kesadarannya sudah mulai pulih sepenunya. Dia
melihat sosok Castiel dengan trenchcoatnya berdiri membelakangi ranjang.
“Cass? Apa
yang kau lakukan di sini?” kata Dean sambil menahan rasa sakit di kepalanya.
“Menyelamatkanmu?
Kurasa.” Jawab Castiel datar sambil berbalik menghadap Dean
Kemudian
pintu terbuka. Sam datang membawa dua buah kantung kertas yang sepertinya
berisi cheese burger kesukaan Dean.
“Kau sudah
bangun? Aku membelikanmu… Oh! Cass! Apa yang membawamu kemari?” tanya Sam
sambil meletakkan kantung-kantung burger di atas meja. Keberadaan Castiel di
kamar motel itu membuatnya agak terkejut.
“Dean..
mimpi buruk”, jawab Castiel
Sam
terkekeh. “Jadi, apakah mimpi buruk Dean sekarang bisa menyebabkan badai di
surga?”
Dean tersenyum
kecut mendengar gurauan adiknya itu
“Tidak.
Tidak pernah ada badai di surga.” Jawab Castiel datar
Dean dan Sam
melemparkan tatapan tidak percaya ke satu sama lain.
Castiel
melanjutkan, “Surga itu adalah tempat dimana..”
“Ya.. ya..
kami tau surga itu seperti apa. Kami pernah mampir ke sana beberapa kali.” Kata
Dean sambil menjatuhkan tubuhnya lagi ke atas ranjang. Dean menatap kosong ke
langit-langit. Pikirannya kembali ke tempat itu. Surga. Tempat terakhir yang
bisa diingatnya dimana ia merasa damai.
“Dengar,
mimpi buruk tidak pernah berarti sesuatu yang baik.”
Perkataan Castiel
membuyarkan lamunan Dean
“Ya, aku
pikir juga begitu. Karena itu mereka dinamakan mimpi buruk bukan?”. Dean
akhirnya bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan melewati Castiel menuju
kamar mandi.
Setelah
mendengar suara shower dinyalakan Castiel mendekat ke arah Sam, “tidakkah ini
aneh menurutmu?”
“Apa?”
“Kalian
berdua hunter, berapa kali dalam hidup kalian mengalami mimpi buruk?”
“Cass, kami
berdua melihat hal-hal mengerikan sedikit lebih sering dari orang normal.
Sedikit mimpi buruk bukankah menandakan kalau kami.. entahlah.. manusia?”
“Itu tidak
menjawab pertanyaaku.” Kata Castiel datar
“Well, Kalau
aku tidak banyak bermimpi. Mimpi burukku hanya tentang Jessica dan Lucifer. Itupun
sudah lama berlalu. Sedangkan Dean, aku berani taruhan meskipun baru saja lolos
dari sarang Wendigo yang akan
dimimpikannya tetap Casa Erotica.”
Castiel
nampak bingung
“Nevermind,
intinya kau benar. Kami tidak mimpi buruk sesering kebanyakan orang. Apa yang
salah dengan itu?” Tanya Sam.
“Tidak, itu
bagus. Tapi selamat dari neraka tidak pernah berakibat baik untuk mental
seseorang.”
“Maksudmu?”
“Sudah
beberapa hari ini Dean bermimpi tentang kenangannya dari neraka. Kita harus
menghentikannya.”
“Wait, kau
mengintip mimpi Dean?!” Tanya Sam terkejut.
“Apa? Kau
pikir aku tidak pernah mengintip mimpimu?”
“Dude, aku
tidak tau dengan surga. Tapi di sini ada yang namanya privasi kau tau?”
“Lucifer,
Michael atau Zachariah bisa saja masuk ke mimpi kalian juga. Katakanlah aku
sedang patroli”, kata Castiel
“Oke, jadi
mimpi buruk Dean mungkin ada hubungannya dengan mereka?”, tanya Sam
“Tidak juga,
hanya saja jika Dean terus memikirkan neraka aku khawatir pertahanannya akan
melemah. Dan mungkin saja Zachariah sedang menunggu itu terjadi.”
“Jadi kita
harus menghentikan mimpi buruk Dean agar dia berhenti memikirkan kenangannya di
neraka?”
Castiel tak
bergeming
“Bagaimana
caranya?” Tanya Sam
“Ku sarankan
kalian mengambil cuti”, Jawab Castiel
Sam
terkekeh, “Apa?”
“Jauhkan diri
kalian dari hal-hal berbau ‘perburuan’ untuk sementara”
Sam nampak
bingung
“Hanya satu
hari. Dan pastikan kalian melakukan hal yang ‘manusiawi’ selama hari itu.”
Jelas Castiel
“manusiawi
seperti pergi ke Disneyland di akhir pekan begitu?”
“Ya..”
Catiel menimbang-nimbang “Mungkin begitu.”
Sam
mengangkat sebelah alisnya
“Dengan datangnya
kiamat, jadwal perburuan kalian menjadi padat akhir-akhir ini kan?” Kata Catiel
“Kau benar, tapi
bagaimana kami bisa melakukannya?”
Terdengar
suara pintu kamar mandi terbuka
“Lakukan
apa?” Tanya Dean-sudah berpakaian- sambil mengeringkan wajahnyanya dengan
handuk.
Castiel dan
Sam saling melirik sebelum melihat ke arah Dean lagi.
“Emm..
well.. “ Sam mencoba memulai
“Kalian
butuh liburan.” Kata Castiel tanpa ragu
Dean nampak
tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, “come again?” katanya
“Mimpi
burukmu bisa berakibat fatal. .”kata Castiel
Dengan
tatapan penuh tanya Dean memandang Sam dan Castiel bergantian
“Itu harus
di hentikan, Dean!” Sam meyakinkan
“Kalian
pikir aku gadis kecil kuda poni yang harus kalian khawatirkan mimpi buruknya?”
Dean tertawa kecil sambil melempar handuk ke ranjang.
“Gadis kecil
kuda poni tidak akan bermimpi dikejar hellhound Dean” Kata Castiel
“Kalian
tidak bercanda?” Dean memandang Sam dan Castiel dalam-dalam. “Oh come on!!”
Dean terdengar
kehilangan harapan “Hal buruk macam apa yang akan terjadi hah?”
“Aku tidak tau
pasti, tapi kalau sampai Zachariah mengetahui kelemahanmu ini, dia akan melakukan
segala cara untuk menggunakannya dan memaksamu berkata ‘ya’” jelas Castiel
“Kalau
begitu biarkan dia mencoba!” tantang Dean
“Aku tahu
kau tidak takut pada Zachariah Dean, aku benar-benar tahu. Tapi sedikit liburan
tidak akan membunuh kita kan?” Kata Sam
Dean menghela
napas. “Berapa lama liburan gila ini harus berlangsung?”
“Mari kita
coba dengan sehari.” jawab Castiel
“Baiklah
guardian angel, kemana kami harus pergi
selama sehari ini?” tanya Dean masih agak kesal
“Sam
memberiku sedikit ide tadi”, kata Castiel
Kemudian Castiel
memegang pundak Sam dan Dean bersamaan. Dan tepat di detik selanjutnya, Sam dan Dean sudah berteleportasi
dari motel itu.
~!~
Sam
terkejut. Dean di sebelahnya juga sama terkejutnya. Mereka tidak menyadari
Castiel tidak bersama mereka lagi. Mereka telah berpindah. Dari motel sempit ke
pusat keramaian. Sam dan Dean terus melihat ke sekeliling. Dean tidak yakin dimana
ia dan Sam berada sampai sesosok tikus raksasa bercalana pendek dan bersepatu
kuning besar berjalan melewati mereka.
“Holly
crap!!” Dean terus melihat ke arah tikus besar itu berjalan. “Kita di Disneyland!”
katanya.
~!~
to be continued. . .
Terima kasih banyak sudah baca :D Sekali lagi krikik dan saran saaaangat-sangat diharapkan (namanyajuga pemula -,-) part 2-nya ada disini :)


0 comments:
Post a Comment