Barely Alive

The untold story of me. .

Supernatural Fanfiction : "Day Off" part (1/2)

Sam-Dean-Castiel
Ini adalah Fanfict Supernatural-ku yang pertama. Mohon maaf ya kalau kurang bagus ^^. FYI fanfict ini dibuat sesuai situasi yang pernah ada di serialnya, tapi secara timeline nggak berurutan.Kritik dan saran sangat diharapkan. Terima kasih.. :D. Enjoy...

Title : Day Off
Cast : Dean Winchester, Sam Winchester, Castiel
Rate : All ages
Theme : Brotherhood, Friendship


Dean berlari. Sekencang yang ia bisa. Dia harus menyelamatkan diri. Peluh sudah bercucuran dari keningnya. Malam sudah semakin larut. Ia harus terus berlari. Suara gonggongan itu terdengar semakin kencang dari belakangnya. Suara gonggongan yang tidak asing lagi, dia pernah mendengarnya. Itu adalah gonggongan yang tidak mau lagi ia dengar untuk selamanya. Hellhounds. Suara anjing neraka tak kasat mata itu terdengar begitu dekat. Mungkin hanya 3-4 meter darinya. Tapi menyadari anjing-anjing itu bisa berada dimana saja membuat Dean semakin ketakutan.

“Tuhan, sekali saja dalam hidupku. Tolong aku!”pikirnya sambil terus berlari

Dari suara yang ia dengar sepertinya Hellhound yang mengerjarnya semakin banyak. Sesekali ia menengok ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Dia berlari di jalan utama dari sebuah perumahan. Rumah-rumah besar, sama dan kosong  yang berada di sekitarnya menandakan kalau sepertinya itu perumahan baru. Dengan hanya diterangi lampu jalan di setiap beberapa meter, jalan yang cukup lebar itu menjadi gelap.  Terlalu Gelap. Dean tidak ingat dimana ia berada sebenarnya, dimana ia memarkirkan impalanya, atau bahkan dimana adiknya, Sam. Untuk bisa mencari dua hal paling berharga dalam hidupnya itu pertama-tama ia harus menyelamatkan dirinya sendiri terlebih dahulu.
Dengan tenaga yang semakin sedikit, ia berlari semakin cepat. Tapi Hellhounds dibelakangnya berlari dengan lebih cepat lagi. Mereka semakin dekat dan semakin dekat. Dean tidak tahu lagi harus berlari kemana. Kepanikan dalam otaknya membuat kompas alami tubuhnya terganggu. Napasnya hampir habis dalam pelarian itu ketika ia merasakan ada tangan yang meraih pundak kanannya.

Hal berikutnya yang ia ketahui adalah ia telah berpindah. Dari jalan besar dan gelap, ke sebuah gang sempit antara dua gedung besar dengan dinding penuh coretan, lembab dan masih tetap gelap. Tidak ada lagi suara gonggongan Hellhounds. Begitu logikanya kembali ketempat semula Dean melihat sepasang mata biru menatapnya dalam-dalam dengan ekspresi bingung.
“Cass?” kata Dean
Tanpa menjawab, Castiel menyentuh kening Dean dengan dua jari tangan kananya. Lalu seketika itu juga Dean terjaga dari tidurnya.


~!~


Dean terkejut. Napasnya terasa berat. Ia terengah-engah seperti baru saja menyalesaikan lomba marathon. Dia bangkit dan duduk di atas ranjang sambil memegangi kepalanya yang terasa berat. Tak lama kemudian kesadarannya sudah mulai pulih sepenunya. Dia melihat sosok Castiel dengan trenchcoatnya berdiri membelakangi ranjang.

“Cass? Apa yang kau lakukan di sini?” kata Dean sambil menahan rasa sakit di kepalanya.
“Menyelamatkanmu? Kurasa.” Jawab Castiel datar sambil berbalik menghadap Dean

Kemudian pintu terbuka. Sam datang membawa dua buah kantung kertas yang sepertinya berisi cheese burger kesukaan Dean.
“Kau sudah bangun? Aku membelikanmu… Oh! Cass! Apa yang membawamu kemari?” tanya Sam sambil meletakkan kantung-kantung burger di atas meja. Keberadaan Castiel di kamar motel itu membuatnya agak terkejut.
“Dean.. mimpi buruk”, jawab Castiel
Sam terkekeh. “Jadi, apakah mimpi buruk Dean sekarang bisa menyebabkan badai di surga?”
Dean tersenyum kecut mendengar gurauan adiknya itu
“Tidak. Tidak pernah ada badai di surga.” Jawab Castiel datar
Dean dan Sam melemparkan tatapan tidak percaya ke satu sama lain.
Castiel melanjutkan, “Surga itu adalah tempat dimana..”
“Ya.. ya.. kami tau surga itu seperti apa. Kami pernah mampir ke sana beberapa kali.” Kata Dean sambil menjatuhkan tubuhnya lagi ke atas ranjang. Dean menatap kosong ke langit-langit. Pikirannya kembali ke tempat itu. Surga. Tempat terakhir yang bisa diingatnya dimana ia merasa damai.

“Dengar, mimpi buruk tidak pernah berarti sesuatu yang baik.”
Perkataan Castiel membuyarkan lamunan Dean
“Ya, aku pikir juga begitu. Karena itu mereka dinamakan mimpi buruk bukan?”. Dean akhirnya bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan melewati Castiel menuju kamar mandi.
Setelah mendengar suara shower dinyalakan Castiel mendekat ke arah Sam, “tidakkah ini aneh menurutmu?”
“Apa?”
“Kalian berdua hunter, berapa kali dalam hidup kalian mengalami mimpi buruk?”
“Cass, kami berdua melihat hal-hal mengerikan sedikit lebih sering dari orang normal. Sedikit mimpi buruk bukankah menandakan kalau kami.. entahlah.. manusia?”
“Itu tidak menjawab pertanyaaku.” Kata Castiel datar
“Well, Kalau aku tidak banyak bermimpi. Mimpi burukku hanya tentang Jessica dan Lucifer. Itupun sudah lama berlalu. Sedangkan Dean, aku berani taruhan meskipun baru saja lolos dari sarang Wendigo  yang akan dimimpikannya tetap Casa Erotica.”
Castiel nampak bingung
“Nevermind, intinya kau benar. Kami tidak mimpi buruk sesering kebanyakan orang. Apa yang salah dengan itu?” Tanya Sam.
“Tidak, itu bagus. Tapi selamat dari neraka tidak pernah berakibat baik untuk mental seseorang.”
“Maksudmu?”
“Sudah beberapa hari ini Dean bermimpi tentang kenangannya dari neraka. Kita harus menghentikannya.”
“Wait, kau mengintip mimpi Dean?!” Tanya Sam terkejut.
“Apa? Kau pikir aku tidak pernah mengintip mimpimu?”
“Dude, aku tidak tau dengan surga. Tapi di sini ada yang namanya privasi kau tau?”
“Lucifer, Michael atau Zachariah bisa saja masuk ke mimpi kalian juga. Katakanlah aku sedang patroli”, kata Castiel
“Oke, jadi mimpi buruk Dean mungkin ada hubungannya dengan mereka?”, tanya Sam
“Tidak juga, hanya saja jika Dean terus memikirkan neraka aku khawatir pertahanannya akan melemah. Dan mungkin saja Zachariah sedang menunggu itu terjadi.”
“Jadi kita harus menghentikan mimpi buruk Dean agar dia berhenti memikirkan kenangannya di neraka?”
Castiel tak bergeming
“Bagaimana caranya?” Tanya Sam
“Ku sarankan kalian mengambil cuti”, Jawab Castiel
Sam terkekeh, “Apa?”
“Jauhkan diri kalian dari hal-hal berbau ‘perburuan’ untuk sementara”
Sam nampak bingung
“Hanya satu hari. Dan pastikan kalian melakukan hal yang ‘manusiawi’ selama hari itu.” Jelas Castiel
“manusiawi seperti pergi ke Disneyland di akhir pekan begitu?”
“Ya..” Catiel menimbang-nimbang “Mungkin begitu.”
Sam mengangkat sebelah alisnya
“Dengan datangnya kiamat, jadwal perburuan kalian menjadi padat akhir-akhir ini kan?” Kata Catiel
“Kau benar, tapi bagaimana kami bisa melakukannya?”

Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka
“Lakukan apa?” Tanya Dean-sudah berpakaian- sambil mengeringkan wajahnyanya dengan handuk.

Castiel dan Sam saling melirik sebelum melihat ke arah Dean lagi.

“Emm.. well.. “ Sam mencoba memulai
“Kalian butuh liburan.” Kata Castiel tanpa ragu
Dean nampak tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, “come again?” katanya
“Mimpi burukmu bisa berakibat fatal. .”kata Castiel
Dengan tatapan penuh tanya Dean memandang Sam dan Castiel bergantian
“Itu harus di hentikan, Dean!” Sam meyakinkan
“Kalian pikir aku gadis kecil kuda poni yang harus kalian khawatirkan mimpi buruknya?” Dean tertawa kecil sambil melempar handuk ke ranjang.
“Gadis kecil kuda poni tidak akan bermimpi dikejar hellhound Dean” Kata Castiel
“Kalian tidak bercanda?” Dean memandang Sam dan Castiel dalam-dalam. “Oh come on!!”
Dean terdengar kehilangan harapan “Hal buruk macam apa yang akan terjadi hah?”
“Aku tidak tau pasti, tapi kalau sampai Zachariah mengetahui kelemahanmu ini, dia akan melakukan segala cara untuk menggunakannya dan memaksamu berkata ‘ya’” jelas Castiel
“Kalau begitu biarkan dia mencoba!” tantang Dean
“Aku tahu kau tidak takut pada Zachariah Dean, aku benar-benar tahu. Tapi sedikit liburan tidak akan membunuh kita kan?” Kata Sam
Dean menghela napas. “Berapa lama liburan gila ini harus berlangsung?”
“Mari kita coba dengan sehari.” jawab Castiel
“Baiklah guardian angel, kemana  kami harus pergi selama sehari ini?” tanya Dean masih agak kesal
“Sam memberiku sedikit ide tadi”, kata Castiel

Kemudian Castiel memegang pundak Sam dan Dean bersamaan. Dan tepat di  detik selanjutnya, Sam dan Dean sudah berteleportasi dari motel itu.


 ~!~ 

Sam terkejut. Dean di sebelahnya juga sama terkejutnya. Mereka tidak menyadari Castiel tidak bersama mereka lagi. Mereka telah berpindah. Dari motel sempit ke pusat keramaian. Sam dan Dean terus melihat ke sekeliling. Dean tidak yakin dimana ia dan Sam berada sampai sesosok tikus raksasa bercalana pendek dan bersepatu kuning besar berjalan melewati mereka.
“Holly crap!!” Dean terus melihat ke arah tikus besar itu berjalan. “Kita di Disneyland!” katanya.


  ~!~ 

to be continued. . .


Terima kasih banyak sudah baca :D Sekali lagi krikik dan saran saaaangat-sangat diharapkan (namanyajuga pemula -,-) part 2-nya ada disini :)


0 comments:

Post a Comment