Barely Alive

The untold story of me. .

Supernatural Fanfiction : "Day Off" part (2/2)


Sam-Little Sam-Dean-Little Dean


Title : Day Off
Cast : Dean Winchester, Sam Winchester, Little Dean, Little Sam, Castiel
Rate : All ages
Theme : Brotherhood

*Before you read this, make sure you've read the first part here

 Kedua mata Dean seakan tidak bisa berkedip. Sambil berjalan, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan tatapan tidak percaya. Sam yang berjalan di sebelahnya mulai menyadari beberapa orang sedang menatap kakaknya itu dengan pandangan aneh.

“Dean, sebaiknya kau berhenti” Kata Sam
“apa? Kenapa?” tanya Dean
“aku berani taruhan orang-orang di sana itu sedang membuat lelucon tentangmu.” Kata Sam sambil menunjuk sekelompok orang dengan dagunya
“entahlah Sam, aku hanya tidak percaya. Bagaimana mungkin malaikat itu mengirim kita ke sini? Ke… ke… Disneyland?!”
“mungkin dia pikir ada sesuatu yang bisa kita kerjakan di sini?”, kata Sam
“Hah! Yang benar saja! Menggaruk bokong goofey? Atau menyampaikan salamnya pada Jasmine?”
Sam tertawa kecil.

Bam! Bam! Bam!
Dari kejauhan Dean dan Sam bisa mendengar suara drum yang di tabuh. Diiringi suara simbal dan alat musik lainnya, suara itu terdengar mendekat.
“Apa itu?!” tanya Sam
“Entahlah. Ayo kita lihat” Jawab Dean.
Sam dan Dean lalu bebalik arah dan mengikuti asal suara ramai itu. Dan bukan hanya mereka berdua, suara itu juga menarik orang-orang untuk datang berkerumun. Berbeda dengan Sam dan Dean yang terlihat bingung, orang-orang itu terlihat antusias.
Dean dan Sam menyelinap agar bisa melihat lebih jelas.

“Parade?!” Dean terkejut
“Waw!” sekelebat bayangan masa lalu tiba-tiba melintasi benak Sam.
Keramaian ini, parade, Sam seakan pernah mengalaminya. Tapi entahlah. Dia tidak yakin.
“De javu.”, katanya.
“Apa?! Bicara lebih keras!”
“Sepertinya aku baru saja mengalami de javu, Dean!” kata Sam setengah berteriak ke arah Dean.
“De.. apa?!” Dean masih tidak bisa mendengar.
“Kurasa kita harus keluar dari kerumunan.” Sambil menggunakan tangannya Sam mengisyaratkan pada Dean untuk pergi.
Dean mengangguk. Mengerti maksud adiknya.
Saat Sam mulai bergerak meninggalkan kerumunan, Dean menoleh untuk melihat parade sesaat.
“Aku tak percaya ini! Itu para putri!” Kata Dean saat melihat kendaraan hias yang berisi putri-putri dalam cerita Disney. Mata Dean langsung tertuju pada seorang putri yang memakai gaun kuning yang tengah tersenyum sambil melambaikan tangan ke penonton.
“Hei Belle!” teriakan Dean membuat ‘Belle’ melihat ke arahnya.
“I think you’re hot!”  Teriak Dean sekali lagi sambil tertawa renyah lalu berbalik untuk mengikuti adiknya.

Dean berusaha keluar dari kerumunan yang dirasanya makin padat. Dia mencari sosok Sam di mana-mana namun tak berhasil menemukannya. Begitu akhirnya Dean berhasil mengeluarkan dirinya dari cekikan keramaian..
 Brukk!!
Sesuatu menabrak Dean. Sesuatu yang kecil. Dean harus menundukkan kepalanya untuk benar-benar melihat apa yang baru saja menabraknya.
“Hei nak. Kau tak apa?” Dean melihat seorang anak laki-laki meringkuk di bawah kakinya lalu mencoba membantu anak itu berdiri.
Anak itu mengangkat kepalanya agar bisa melihat Dean. Seketika itu juga dean merasakan sesuatu yang aneh.
Tatapan itu. Dean pernah melihatnya. Tidak, dia sangat akrab dengan tatapan itu.
Tatapan yang dlihatnya setiap hari.
Bertahun-tahun yang lalu.
Jutaan pertanyaan seketika memasuki ruang otak Dean yang terbatas. Dean akhirnya merangkum pertanyaan-pertanyaan itu menjadi satu kata yang akhirnya keluar dari mulutnya,
“Sam?” tanya Dean pada anak kecil yang kini ada di hadapannya.
“Bagaimana kau tahu namaku?”, tanya anak itu dengan polos.
“Sammy!” teriakan anak kecil lain terdengar tak jauh dari mereka.
Dean mengedarkan pandangan mencari asal suara itu. Dan hal selanjutnya yang dia lihat jauh lebih membingungkannya.
Seorang anak laki-laki berumur sekitar  12 tahun berlari menghampiri mereka. Anak itu mengenakkan celana jeans, kaus polos hitam dan kemeja berwarna hijau tentara yang tidak dikancing. Sepatunya, tatanan rambutnya, caranya memanggil Sam, semua yang ada pada anak itu nampak tidak asing untuk Dean.
“Hati-hati, Bung!”, kata anak itu pada Dean begitu ia lebih dekat.
Dean tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menantap kedua anak itu dengan bingung.
“Apa kau baik-baik saja Sam?” tanya anak yang baru datang
Anak yang tadi menabrak Dean hanya mengangguk.
“Ayo kita pergi!”
Kedua anak itu lalu pergi meninggalkan Dean yang masih tidak bisa berkata apa-apa. Dean hanya memandangi punggung mereka yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang ditelan keramaian.
“Hei Dean! Aku mencarimu dari tadi!” Kata Sam
Dean tidak mengiraukan adiknya. Matanya memandang entah kemana.
“Dean!” Sam meninggikan suaranya
“Apa kita pernah kesini sebelumnya?”
“Kurasa pernah sekali. Saat kita masih anak-anak, Kenapa?”
“Sam, kau tak akan percaya dengan apa yang baru aku lihat!” Kata Dean
“Apa?”mata Sam mengikuti arah pandangan Dean
“Kita”
Sam lalu melemparkan tatapan ‘apa kau sudah gila?’ pada Dean

….

Dean memberikan es krim yang baru saja dibelinya pada Sam yang sejak tadi menunggunya di sebuah kursi taman berwarna putih.
“Kenapa lama sekali?” Kata Sam
“Sudah habiskan saja es krim mu!” kata Dean sinis.

Sepasang kakak beradik itu menikmati es krim mereka dalam diam.
Mata mereka mengikuti gerak orang-orang yang lalu lalang di hadapan mereka. Dean tahu betul beberapa pasang mata nampak memandangi mereka dengan iba.
Tapi dia tidak peduli.
Berusaha tidak peduli.

“Kapan ayah akan menjemput kita?”, akhirnya Sam bertanya
“Sebentar lagi.” Jawab Dean
“Apa kau yakin?” tanya Sam lagi
“Iya! Diamlah dan habiskan saja es krim mu!”
“Oke..” Sam terdengar sedih

Diam-diam, tanpa dua anak kecil itu ketahui ada dua pasang mata yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik mereka.

                ….

Sam memandang kedua anak itu dengan tidak percaya. Begitu pula dengan Dean.
“Dean..” , kata Sam
“Hmm?” Dean masih menatap ke arah kedua anak itu
“Apa  menurutmu sebaiknya kita temui mereka?”
“Apa kau gila? Tidak!” Jawab Dean
“Kenapa tidak? Maksudku, mereka kan… kita?” Sam merasa aneh dengan kata-katanya sendiri.
“Entahlah Sam. Mereka masih.. mereka tidak seperti kita.” Kata Dean sambil memandangi ‘dirinya yang dulu’
 “Ya kau benar. Aku yang di sana itu belum mengetahui apa-apa tentang semua hal mengerikan ini kan?”, tanya Sam
Dean tidak menjawab pertanyaan Sam. Dia masih terus memandangi ‘Dean’ yang sedang duduk di bangku taman itu. Angannya melayang jauh ke masa lalu.
Waktu itu yang ada di pikirannya setiap saat adalah ‘lindungi Sam’. Tidak, sampai sekarangpun masih terus seperti itu.
Perintah ayahnya yang satu itu sudah tertanam jauh ke dalam dirinya.
Tapi dia juga ingat, waktu itu adalah saat yang berat buatnya. Anak sekecil dia harus mengetahui bahwa ada mahluk yang hidup dalam kegelapan. Salah satu dari mahluk itu telah mengambil ibunya. Dan ayahnya harus berada dalam bahaya hampir setiap hari untuk menemukan pembunuh ibu mereka.
Dia takut.
Tapi tidak bisa mengatakannya pada siapapun. Terlebih pada Sam. Dia tidak bisa membiarkan Sam merasakan ketakutan itu juga. Dia tidak akan membiarkan adiknya mengalami masa-masa sulit sebagai anak-anak.
Seperti yang dia alami.

“Waktu itu kau menjagaku dengan baik, Dean.”
Perkataan Sam membuyarkan lamunan Dean
Sam melanjutkan kaimatnya, “Kau selalu ada untukku. Kau tidak pernah membiarkan aku merasa takut. Dan.. sejujurnya, walau ayah jarang ada bersama kita, aku tidak pernah benar-benar kesepian.”
Dean memandang adiknya itu sejenak.
“Hei-hei, hentikan momen cengeng ini. Ini bukan gayaku.”,jawab Dean
Sam tertawa kecil.
Dean kembali berpikir. Dirinya yang dulu bisa mengatasi rasa takutnya dengan baik.
Tidak mudah memang.
Tapi dia berhasil.
Dia juga akan berhasil kali ini. Dia akan mengatasi kenangan buruknya tentang neraka.
Dia tidak akan mimpi buruk malam ini. Kali ini dia yakin.
“Kau tahu Sam? Kurasa aku tahu kenapa Cass mengirim kita kesini.”
“Hei Dean! Kau sudah menerima pelajaranmu?”
Suara yang sangat tak asing tiba-tiba terdengar dari belakan Sam dan Dean.
“Cass! Kau mengejutkan ku!” Kata Sam yang belum terbiasa dengan kemampuan malaikat untuk muncul secara tiba-tiba.
“Ayo, kita harus kembali.” Kata Castiel
“Tapi…”
Castiel tidak membiarkan Dean menyelesaikan kalimatnya. Dengan satu sentuhan di pundak Sam dan Dean, mereka bertiga langsung menghilang dari tempat itu.

….
Dean menghabiskan es krimnya dengan cepat.
Di sana. Di arah jam 11 ada dua orang dewasa yang terus mengawasi mereka. Dengan ekor matanya dia juga mengawasi mereka berdua. Takut-takut mereka adalah orang yang berniat jahat.
Ingin rasanya ia segera membawa Sam pergi dari sana. Tapi mereka mungkin akan mengejar.
Untuk saat ini, tetap berada di keramaian adalah pilihan terbaik.

“Beeepp!!” Suara klakson mobil terdengar dari kejauhan
“Itu ayah!” kata Sam sambil menunjuk mobil impala ’67 yang terparkir sekitar beberapa meter dari mereka.
Sam langsung berlari ke arah mobil itu.
“Sam, tunggu!!” teriak Dean
Sebelum menyusul adiknya, Dean kembali melihat ke arah dua orang yang tadi mengawasi mereka.
Kini ada seseorang lagi yang bersama mereka. Seorang pria dengan trenchcoat.
“Dean, ayo cepat!” Teriak Sam dari balik jendela  kursi penumpang impala itu.
“Give me a second!” Dean juga berteriak.
Dean kembali melihat ke arah ketiga orang tadi. Tapi sudah tidak ada siapa-siapa di tempat mereka semula berdiri.
Dia mencari-cari ke sekeliling. Ketiga orang itu tidak terlihat dimanapun.
“Mungkin mereka memang orang jahat.”, pikir Dean.
Kemudian Dean berlari menyusul adiknya menuju Impala sang ayah.

 ....

Terima kasih banyak sudah baca :D Sekali lagi krikik dan saran saaaangat-sangat diharapkan

0 comments:

Post a Comment