![]() |
| Sam-Little Sam-Dean-Little Dean |
Title : Day Off
Cast : Dean Winchester, Sam Winchester, Little Dean, Little Sam, Castiel
Rate : All ages
Theme : Brotherhood
Cast : Dean Winchester, Sam Winchester, Little Dean, Little Sam, Castiel
Rate : All ages
Theme : Brotherhood
Kedua mata
Dean seakan tidak bisa berkedip. Sambil berjalan, ia mengedarkan pandangannya
ke sekeliling dengan tatapan tidak percaya. Sam yang berjalan di sebelahnya
mulai menyadari beberapa orang sedang menatap kakaknya itu dengan pandangan
aneh.
“Dean,
sebaiknya kau berhenti” Kata Sam
“apa?
Kenapa?” tanya Dean
“aku berani
taruhan orang-orang di sana itu sedang membuat lelucon tentangmu.” Kata Sam
sambil menunjuk sekelompok orang dengan dagunya
“entahlah
Sam, aku hanya tidak percaya. Bagaimana mungkin malaikat itu mengirim kita ke
sini? Ke… ke… Disneyland?!”
“mungkin dia
pikir ada sesuatu yang bisa kita kerjakan di sini?”, kata Sam
“Hah! Yang
benar saja! Menggaruk bokong goofey? Atau menyampaikan salamnya pada Jasmine?”
Sam tertawa
kecil.
Bam! Bam!
Bam!
Dari
kejauhan Dean dan Sam bisa mendengar suara drum yang di tabuh. Diiringi suara
simbal dan alat musik lainnya, suara itu terdengar mendekat.
“Apa itu?!”
tanya Sam
“Entahlah.
Ayo kita lihat” Jawab Dean.
Sam dan Dean
lalu bebalik arah dan mengikuti asal suara ramai itu. Dan bukan hanya mereka
berdua, suara itu juga menarik orang-orang untuk datang berkerumun. Berbeda
dengan Sam dan Dean yang terlihat bingung, orang-orang itu terlihat antusias.
Dean dan Sam
menyelinap agar bisa melihat lebih jelas.
“Parade?!”
Dean terkejut
“Waw!”
sekelebat bayangan masa lalu tiba-tiba melintasi benak Sam.
Keramaian ini, parade, Sam seakan pernah mengalaminya. Tapi entahlah. Dia tidak yakin.
“De javu.”, katanya.
Keramaian ini, parade, Sam seakan pernah mengalaminya. Tapi entahlah. Dia tidak yakin.
“De javu.”, katanya.
“Apa?!
Bicara lebih keras!”
“Sepertinya
aku baru saja mengalami de javu, Dean!” kata Sam setengah berteriak ke arah
Dean.
“De.. apa?!”
Dean masih tidak bisa mendengar.
“Kurasa kita
harus keluar dari kerumunan.” Sambil menggunakan tangannya Sam mengisyaratkan
pada Dean untuk pergi.
Dean
mengangguk. Mengerti maksud adiknya.
“Aku tak
percaya ini! Itu para putri!” Kata Dean saat melihat kendaraan hias yang berisi
putri-putri dalam cerita Disney. Mata Dean langsung tertuju pada seorang putri
yang memakai gaun kuning yang tengah tersenyum sambil melambaikan tangan ke
penonton.
“Hei Belle!”
teriakan Dean membuat ‘Belle’ melihat ke arahnya.
“I think
you’re hot!” Teriak Dean sekali lagi
sambil tertawa renyah lalu berbalik untuk mengikuti adiknya.
Dean
berusaha keluar dari kerumunan yang dirasanya makin padat. Dia mencari sosok
Sam di mana-mana namun tak berhasil menemukannya. Begitu akhirnya Dean berhasil
mengeluarkan dirinya dari cekikan keramaian..
Brukk!!
Sesuatu
menabrak Dean. Sesuatu yang kecil. Dean harus menundukkan kepalanya untuk
benar-benar melihat apa yang baru saja menabraknya.
“Hei nak.
Kau tak apa?” Dean melihat seorang anak laki-laki meringkuk di bawah kakinya
lalu mencoba membantu anak itu berdiri.
Anak itu mengangkat
kepalanya agar bisa melihat Dean. Seketika itu juga dean merasakan sesuatu yang
aneh.
Tatapan itu.
Dean pernah melihatnya. Tidak, dia sangat akrab dengan tatapan itu.
Tatapan yang
dlihatnya setiap hari.
Bertahun-tahun
yang lalu.
Jutaan
pertanyaan seketika memasuki ruang otak Dean yang terbatas. Dean akhirnya
merangkum pertanyaan-pertanyaan itu menjadi satu kata yang akhirnya keluar dari
mulutnya,
“Sam?” tanya
Dean pada anak kecil yang kini ada di hadapannya.
“Bagaimana
kau tahu namaku?”, tanya anak itu dengan polos.
“Sammy!”
teriakan anak kecil lain terdengar tak jauh dari mereka.
Dean
mengedarkan pandangan mencari asal suara itu. Dan hal selanjutnya yang dia
lihat jauh lebih membingungkannya.
Seorang anak
laki-laki berumur sekitar 12 tahun
berlari menghampiri mereka. Anak itu mengenakkan celana jeans, kaus polos hitam
dan kemeja berwarna hijau tentara yang tidak dikancing. Sepatunya, tatanan
rambutnya, caranya memanggil Sam, semua yang ada pada anak itu nampak tidak
asing untuk Dean.
“Hati-hati,
Bung!”, kata anak itu pada Dean begitu ia lebih dekat.
Dean tidak
bisa berkata apa-apa. Ia hanya menantap kedua anak itu dengan bingung.
“Apa kau
baik-baik saja Sam?” tanya anak yang baru datang
Anak yang
tadi menabrak Dean hanya mengangguk.
“Ayo kita
pergi!”
Kedua anak
itu lalu pergi meninggalkan Dean yang masih tidak bisa berkata apa-apa. Dean
hanya memandangi punggung mereka yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang
ditelan keramaian.
“Hei Dean!
Aku mencarimu dari tadi!” Kata Sam
Dean tidak
mengiraukan adiknya. Matanya memandang entah kemana.
“Dean!” Sam
meninggikan suaranya
“Apa kita
pernah kesini sebelumnya?”
“Kurasa
pernah sekali. Saat kita masih anak-anak, Kenapa?”
“Sam, kau
tak akan percaya dengan apa yang baru aku lihat!” Kata Dean
“Apa?”mata
Sam mengikuti arah pandangan Dean
“Kita”
Sam lalu
melemparkan tatapan ‘apa kau sudah gila?’ pada Dean
….
Dean
memberikan es krim yang baru saja dibelinya pada Sam yang sejak tadi menunggunya
di sebuah kursi taman berwarna putih.
“Kenapa lama
sekali?” Kata Sam
“Sudah
habiskan saja es krim mu!” kata Dean sinis.
Sepasang
kakak beradik itu menikmati es krim mereka dalam diam.
Mata mereka
mengikuti gerak orang-orang yang lalu lalang di hadapan mereka. Dean tahu betul
beberapa pasang mata nampak memandangi mereka dengan iba.
Tapi dia
tidak peduli.
Berusaha
tidak peduli.
“Kapan ayah
akan menjemput kita?”, akhirnya Sam bertanya
“Sebentar
lagi.” Jawab Dean
“Apa kau
yakin?” tanya Sam lagi
“Iya!
Diamlah dan habiskan saja es krim mu!”
“Oke..” Sam
terdengar sedih
Diam-diam,
tanpa dua anak kecil itu ketahui ada dua pasang mata yang sejak tadi
memperhatikan gerak-gerik mereka.
….
Sam memandang kedua anak itu dengan tidak percaya. Begitu pula dengan
Dean.
“Dean..” , kata Sam
“Hmm?” Dean masih menatap ke arah kedua anak itu
“Apa menurutmu sebaiknya kita
temui mereka?”
“Apa kau gila? Tidak!” Jawab Dean
“Kenapa tidak? Maksudku, mereka kan… kita?” Sam merasa aneh dengan
kata-katanya sendiri.
“Entahlah Sam. Mereka masih.. mereka tidak seperti kita.” Kata Dean
sambil memandangi ‘dirinya yang dulu’
“Ya kau benar. Aku yang di sana
itu belum mengetahui apa-apa tentang semua hal mengerikan ini kan?”, tanya Sam
Dean tidak menjawab pertanyaan Sam. Dia masih terus memandangi ‘Dean’
yang sedang duduk di bangku taman itu. Angannya melayang jauh ke masa lalu.
Waktu itu yang ada di pikirannya setiap saat adalah ‘lindungi Sam’.
Tidak, sampai sekarangpun masih terus seperti itu.
Perintah ayahnya yang satu itu sudah tertanam jauh ke dalam dirinya.
Tapi dia juga ingat, waktu itu adalah saat yang berat buatnya. Anak
sekecil dia harus mengetahui bahwa ada mahluk yang hidup dalam kegelapan. Salah
satu dari mahluk itu telah mengambil ibunya. Dan ayahnya harus berada dalam
bahaya hampir setiap hari untuk menemukan pembunuh ibu mereka.
Dia takut.
Tapi tidak bisa mengatakannya pada siapapun. Terlebih pada Sam. Dia
tidak bisa membiarkan Sam merasakan ketakutan itu juga. Dia tidak akan membiarkan
adiknya mengalami masa-masa sulit sebagai anak-anak.
Seperti yang dia alami.
“Waktu itu kau menjagaku dengan baik, Dean.”
Perkataan Sam membuyarkan lamunan Dean
Sam melanjutkan kaimatnya, “Kau selalu ada untukku. Kau tidak pernah
membiarkan aku merasa takut. Dan.. sejujurnya, walau ayah jarang ada bersama
kita, aku tidak pernah benar-benar kesepian.”
Dean memandang adiknya itu sejenak.
“Hei-hei, hentikan momen cengeng ini. Ini bukan gayaku.”,jawab Dean
Sam tertawa kecil.
Dean kembali berpikir. Dirinya yang dulu bisa mengatasi rasa takutnya
dengan baik.
Tidak mudah memang.
Tapi dia berhasil.
Dia juga akan berhasil kali ini. Dia akan mengatasi kenangan buruknya
tentang neraka.
Dia tidak akan mimpi buruk malam ini. Kali ini dia yakin.
“Kau tahu Sam? Kurasa aku tahu kenapa Cass mengirim kita kesini.”
“Hei Dean! Kau sudah menerima pelajaranmu?”
Suara yang sangat tak asing tiba-tiba terdengar dari belakan Sam dan
Dean.
“Cass! Kau mengejutkan ku!” Kata Sam yang belum terbiasa dengan
kemampuan malaikat untuk muncul secara tiba-tiba.
“Ayo, kita harus kembali.” Kata Castiel
“Tapi…”
Castiel tidak membiarkan Dean menyelesaikan kalimatnya. Dengan satu
sentuhan di pundak Sam dan Dean, mereka bertiga langsung menghilang dari tempat
itu.
….
Dean menghabiskan es krimnya dengan cepat.
Di sana. Di arah jam 11 ada dua orang dewasa yang terus mengawasi
mereka. Dengan ekor matanya dia juga mengawasi mereka berdua. Takut-takut
mereka adalah orang yang berniat jahat.
Ingin rasanya ia segera membawa Sam pergi dari sana. Tapi mereka
mungkin akan mengejar.
Untuk saat ini, tetap berada di keramaian adalah pilihan terbaik.
“Beeepp!!” Suara klakson mobil terdengar dari kejauhan
“Itu ayah!” kata Sam sambil menunjuk mobil impala ’67 yang terparkir
sekitar beberapa meter dari mereka.
Sam langsung berlari ke arah mobil itu.
“Sam, tunggu!!” teriak Dean
Sebelum menyusul adiknya, Dean kembali melihat ke arah dua orang yang tadi
mengawasi mereka.
Kini ada seseorang lagi yang bersama mereka. Seorang pria dengan
trenchcoat.
“Dean, ayo cepat!” Teriak Sam dari balik jendela kursi penumpang impala itu.
“Give me a second!” Dean juga berteriak.
Dean kembali melihat ke arah ketiga orang tadi. Tapi sudah tidak ada
siapa-siapa di tempat mereka semula berdiri.
Dia mencari-cari ke sekeliling. Ketiga orang itu tidak terlihat
dimanapun.
“Mungkin mereka memang orang
jahat.”, pikir Dean.
Kemudian Dean berlari menyusul adiknya menuju Impala sang ayah.
....
Terima kasih banyak sudah baca :D Sekali lagi krikik dan saran saaaangat-sangat diharapkan


0 comments:
Post a Comment