Suara kereta memekakan telingaku. Aku menghela napas panjang.
Matahari sudah mulai meluncur dari puncak tertingginya, aku masih bersabar menunggu.
Biasanya, tak sampai sore aku sudah bisa melihatnya turun dari kereta
Senja makin menjelang.
Peluh yang membasahiku makin banyak. Peron ini sepertinya makin sesak saja.
Aku harap bisa melihat wajahnya dari balik kerumunan orang-orang ini.
Tapi ia tak tampak dimanapun. Aku mulai gelisah.
Bagaimana kalau aku tidak bisa bertemu dia?
Ah.. memikirkannya saja membuat aku sedih.
Wajah muramku tak bisa terbendung. Tetap saja, tak ada yang peduli.
Aku masih menunggunya. Meski aku mulai tak tenang.
Ini kereta terakhir..
Matahari sudah mulai meluncur dari puncak tertingginya, aku masih bersabar menunggu.
Biasanya, tak sampai sore aku sudah bisa melihatnya turun dari kereta
***
Senja makin menjelang.
Peluh yang membasahiku makin banyak. Peron ini sepertinya makin sesak saja.
Aku harap bisa melihat wajahnya dari balik kerumunan orang-orang ini.
Tapi ia tak tampak dimanapun. Aku mulai gelisah.
Bagaimana kalau aku tidak bisa bertemu dia?
Ah.. memikirkannya saja membuat aku sedih.
Wajah muramku tak bisa terbendung. Tetap saja, tak ada yang peduli.
Aku masih menunggunya. Meski aku mulai tak tenang.
***
Ini kereta terakhir..
Saat asa ini hampir pudar,
disana! Aku melihatnya! Dia berjalan diantara orang-orang yang baru saja turun dari kereta.
Dia berjalan semakin dekat dan semakin dekat denganku.
Aku tidak berani menatapnya. Aku hanya tertunduk malu sambil sesekali mencuri pandang, berharap dia tidak menyadarinya.
disana! Aku melihatnya! Dia berjalan diantara orang-orang yang baru saja turun dari kereta.
Dia berjalan semakin dekat dan semakin dekat denganku.
Aku tidak berani menatapnya. Aku hanya tertunduk malu sambil sesekali mencuri pandang, berharap dia tidak menyadarinya.
Kemudian, dia berhenti tepat di hadapanku dan tersenyum.
Aku mengangguk kecil, bukan untuk menjawab senyumannya,
tapi untuk selembar uang sepuluh ribu yang ia letakkan di atas receh-receh dalam mangkukku.
Setelah sebulan, aku akhirnya hafal kalau tiap hari Jum’at lelaki dermawan ini pasti lewat.
‘Makasih mas’ kataku rintih sesaat sebelum ia berlalu.
Dalam hati aku menari riang.
Aku mengangguk kecil, bukan untuk menjawab senyumannya,
tapi untuk selembar uang sepuluh ribu yang ia letakkan di atas receh-receh dalam mangkukku.
Setelah sebulan, aku akhirnya hafal kalau tiap hari Jum’at lelaki dermawan ini pasti lewat.
‘Makasih mas’ kataku rintih sesaat sebelum ia berlalu.
Dalam hati aku menari riang.
***
197 kata



3 comments:
Wah..pengemis ya :)
Aduh, sampe hafal sama yg ngasih. aku kira pacarnya hehe
hehe :D
Post a Comment