Dia balik
lagi halaman itu. Entah sudah berapa kali.
Halaman demi
halaman buku harian yang semula polos tak bernoda perlahan terisi kata-kata.
Jika bisa,
mungkin pena yang tergenggam erat ditangannya akan mengeluh.
Sudah
berjam-jam gadis itu menulis.
Dia
menuliskan semuanya…
Perasaan
yang seharian ini berhasil disembunyikannya dari dunia
Perasaan
yang saat ini hanya bisa diwakilkan oleh dua hal:
Semua
kata-kata yang dituliskannya dalam buku harian itu,
Dan air mata
yang sejak tadi tiada berhenti mengalir.
Air mata itu
seakan mengiringinya menulis…
Menulis…
Dan menulis…
Kemudian ia
berhenti…
Ia pandangi
kalimat terakhir
Kalimat yang
baru saja ditulisnya,
“Dan semua akan terasa lebih mudah jika
Tuhan mengambil nyawaku sekarang”
Ingin rasanya dia menghapusnya
Tapi setelah dipikir lagi, tidak
ada yang salah dari kalimat itu
Lalu Ia pejamkan matanya
Bulir-bulir air mata kembali menetes seiring dengan semakin rapat
matanya terpejam
Saat itulah semuanya kembali terlintas dalam benaknya
Masa kecilnya…
Seorang wanita tersenyum padanya dengan penuh kehangatan..
Merangkul tubuh mungilnya dengan penuh kasih..
Dan mendekapnya, menjanjikan rasa aman..
“Ibu..” Ia memanggil lirih
Kemudian ia buka matanya
Kenyataan sekali lagi membuatnya kecewa
Tak ada Ibu yang bisa merangkulnya di sana
Tidak ada yang bisa memastikan semua akan baik-baik saja
Tangan semu seakan menggenggam jantungnya
“Sakit Bu.. di sini sakit.. sakit sekali”
Air matanya terus mengalir. Enggan terhentikan..
Ia rebahkan tubuhnya di atas lantai…
Ia rasakan dinginnya tanpa mengeluh
Air mata itu masih mengalir
Ia sendirian
Sudah lama mengetahuinya
Tapi baru benar-benar merasakannya sekarang
… Sendirian
"Tuhan,
Aku tahu Kau Maha Mendengar
Tapi mengapa aku merasa tak didengarkan?
Kau tunjukkan padaku bahwa do’a-do’a setulus itupun bisa juga tidak
terkabul
Maka apakah aku benar-benar didengar?
Kenapa Kau menciptakan dunia yang sebegini kejam?
Kenapa kau biarkan mahluk-mahluk-Mu saling menyakiti satu sama lain?
Kenapa harus ada perasaan terluka?"
Perlahan gadis itu bangkit
Air matanya tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti
Dinginnya lantai masih terasa di pipinya
Ia tidak peduli
Ia paksakan raganya yang rapuh tanpa penopang untuk berjalan
Lalu ia raih sebuah pintu
Dengan sekuat tenaga Ia berusaha membukanya
Saat akhirnya terbuka, udara malam yang dingin langsung menyapa
Gadis itu menarik napas dalam-dalam
Air matanya mereda
Ia langkahkan kakinya perlahan
Angin malam membelai rambut panjangnya yang sehitam langit saat ini
Tubuhnya yang lemah nyaris tumbang beberapa kali
Tapi ia teruskan langkahnya menuju tepian balkon
Dan Ia terdiam…
Tak tahu lagi apa yang harus dilakukan
Matanya yang masih berkaca-kaca menatap kosong ke gedung-gedung
pencakar langit
Suara riuh lalu lintas terdengar jelas dari bawah
Pemandangan malam di perkotaan seperti ini dulu adalah favoritnya
Tapi malam ini…
Tidak seindah biasanya
Ia ulurkan tangan kanannya ke depan
Berusaha menggenggam angin malam
“Kebebasan…”
“Angin malam berlarian penuh kebebasan ..”
“Aku iri..”
Katanya pada diri sendiri
…
…
Hembusan napasnya terdengar semakin berat
Di luar pagar balkon masih ada celah untuk kakinya berpijak
Di sanalah ia berdiri sekarang
Tak ada lagi pembatas antara dirinya dan dunia yang kini terhampar
dihadapannya
Jarak yang membentang antara raganya dan permukaan bumi tak membuatnya
gentar sama sekali
Lalu ia pejamkan matanya sejenak
Setetes air mata kembali memunculkan diri di sana
Berkilaun karena pantulan cahaya bulan,
Air mata itu dengan anggun meninggalkan kelopak mata,
Meluncur menelusuri kulit yang dingin di pipi gadis itu
Lalu jatuh entah kemana
Gadis itu masih berdiri di sana
Tatapannya masih hampa
Ia tak mau lagi memikirkan apa-apa
Suara keramaian kota tak lagi terdengar di telinganya
Ia pejamkan matanya sekali lagi
Kemudian sambil membuka mata…
Ia jatuhkan dirinya ke dalam pelukan kebebasan…
…


2 comments:
bagus.
thank you puguh :D
Post a Comment